Beranda > Psikologi > KEBUTUHAN DAN KEINGINAN SEORANG ANAK

KEBUTUHAN DAN KEINGINAN SEORANG ANAK


Setiap anak mempunyai kebutuhan yang sah untuk diperhatikan, dimengerti, ditanggapi dengan serius, dan dihargai oleh ibunya. Kebutuhan anak terhadap ibunya seringkali kita saksikan apabila seorang anak dalam gendongan ibunya saling menatap, ibu memandangi wajah anaknya dan anaknya mernandangi wajah ibu seakan-akan ia menemukan dirinya sendiri. Anak merasa terjamin karena ibunya benar-benar memandang kepada makhluk yang unik dan yang tak berdaya ini, bukan memproyeksikan harapan-harapan si ibu, rasa takutnya dan rencana-rencana si ibu bagi sang anak kelak. Jika hal yang ini terjadi maka si anak tidak akan menemukan dirinva pada wajah ibunva, melainkan menemukan proyeksi-proyeksi sang ibu berupa harapan-harapan terhadap anaknya. Anak ini kelak tidak mempunyai cermin dan sepanjang hidupnya ia akan mencari cermin itu dengan sia-sia

Pertumbuhan yang sehat

Merupakan suatu sangat beruntung bagi anak yang dapat bertumbuh besar dengan orang tua yang dapat di jadikan cermin dan selalu menyediakan dirinya untuk kebutuhan dalam diri anaknya.yakni orang tua yang menjadikan dirinya untuk berfungsi sebagai sarana bagi perkembangan anaknya, maka perasaan yang murni dapat tumbuh dan berkembang sehat dalam diri si anak.

Sianak berharap memperoleh suatu iklim emosional yang murni dari orang tua serta dapat memahami dan menyediakan kebutuhan-kebutuhan si anak, yaitu iklim emosional yang bersifat hangat, jika tidak menginginkan anaknya mencari kehangatan kepada orang lain-kontak yang murni dan otomatis seseorang dengan emosi dan kebutuhan-kebutuhannya, memberikan orang itu kekuatan dan harga diri (self-esteem).

Memahami dan megerti akan apa yang dilakukan dan diperbuat seorang anak, akan meningkatkan kepercayaan anak kepada orang yang memahaminya. Memberikan kepercayaan kepada anak merupakan sesuatu yang memang sulit tetapi akan menjadi mudah manakala orang tua tidak menjadikan atau memproyeksikan harapan dan keinginanya kepada anak, proyeksi dan keinginan orang tua ini yang akan menjadikan bekas yang sewaktu-waktu akan muncul bersamaan dengan hal-hal yang tidak menyenangkan anak itu.

Kebutuhan merupan sebuah modal untuk pencapaian masa akan datang. Jika kita dapat melihat hirarki kebutuhan Maslow, bahwa jenjang kebutuhan yang dan dasar mencapai puncaknya (kebutuhan Biologi, rasa aman, rasa kasih sayang, harga diri dan aktualisasi diri). Namun kebutuhan dasar yang di miliki seseorang sangat menentukan proses kehidupan kemudian. Kebutuhan dasar yang ada pada akan tercipta dalam dua kebutuhan yaitu kebutuhan sebenarnya dan kebutuhan yang tidak sebenarnya.

Kebutuhan yang sebenarnya inilah yang dibutuhkan seorang anak untuk mencapai kehidupan kemudian. Dengan kebutuhan ini akan merasa bahwa perasaan kasih yang tertanam dalam dirinya, perasaan aman dan perasaan pencapai diri yang kuat yaitu kepercayaan diri. Jika kebutuhan ini tidak terpenuhi, maka ia akan membekas hingga saatnya muncul – stimulus (rangsangan) datang ia akan tampil kepermukaan.

Sedangkan kebutuhan yang tak sebenarnya akan muncul pada setiap orang (anak), tetapi hanya merupakan suatu reaksi yang sifatnya tidak diinginkan. Oleh karena itu kebutuhan yang tidak sebenarnya apabila tidak terpuaskan maka ia tidak akan menjadikan gangguan di kemudian haninva. Rasa kebutuhan ini muncul pada anak seperti apabila ia melihat sesuatu yang ia tidak menyukai, hanya karena melihat teman (orang lain) menyukainya maka ia pun berusaha menyukaiannya – dapat disebut sebagai lapar mata. Jika kebutuhan itu diabaikan ia pun tidak akan merasakan apa-apa.

Maka untuk menjadikan pertumbuhan dan perkembangan yang sehat pada anak-anak dikemudian hari, sebagai orang tua dapat memberikan suatu kehangatan yang sangat berarti bagi anak-anaknya. Begitu juga bila kita ingin memberikan kebutuhan dan keinginan yang akan diperlukan oleh sang anak seumur hidupnya, maka orang tua harus dan tak boleh dipisahkan dari anaknya yang baru dan sangat membutuhkannya.

Kebutuhan ini terlihat pada seorang bayi yang baru lahir, ia membutuhkan ibunya disampingnya, tetapi bila ia dipisahkan dari ibunya, maka peluang terbesar telah hilang baik si ibu maupun si bayi itu sendiri. Ikatan batin antara ibu dan bayinya (melalui sentuhan kulit atau tatapan mata) setelah pasca melahirkan akan memunculkan perasaan bahwa mereka berdua saling memiliki, sebuah perasaan kebersamaan, hal ini sudah ada sejak masa hamil. Si bayi mendapatkan rasa aman yang ia butuhkan untuk mempercayai ibunya, dan si ibu menerima keyakinan si bayi itu yang akan membantunya dalam memahami dan merespon pesan-pesan anaknya. keintiman yang timbal balik ini tidak akan dapat tercipta lagi, karena ketidak hadiran ibu dan bapaknya, dan menjadi hambatan yang serius sejak awal kehidupannya.

“Orang tua yang merasakan ikatan dengan anaknya, akan berkurang untuk menyalahgunakan anaknya dan akan berada pada posisi melindungi anaknya dan kemungkinan yang tidak menyenangkan pada diri anaknya”.

Gangguan yang terjadi

Apa jadinya bila seorang ibu, tidak memenuhi kebutuhan-kebutuhan anaknya, dan tidak mampu menumbuhkan keyakinan diri anaknya? Yang sebanarnya orang tua sangat berusaha untuk memberikan dan memenuhi kebutuhan yang diinginkan anaknya. Karena hal ini merupakan kasih sayang mereka pada anaknya; tetapi seringkali orang tua menyayangi anaknya dengan penuh cinta kasih, namun kasih sayang itu tidak sesuai dengan yang dikehendaki anaknya. Hal mi terjadi disebabkan orang tua menjadi hubungan dirinya dengan anak sebagai hubungan yang eksploitatif. Maka dengan hubungan ini akan terjadi suatu kehilangan kerangka (framework,), yang memungkinkan munculnya perasaan dan emosi-emosinya. Akibatnya si anak membentuk sesuatu yang dibutuhkan orang tuanya, dan ia akan terselamatkan hidupnya pada saat itu (dengan menjaga cinta kasih sayang orang tuanya). Sebaliknya akan mencegah diri dalam sepanjang hidupnya, untuk mendapatkan identitas dirinya – ia tidak mengenal dirinya sendiri – dirinya menjadi diri orang tuanya.

Lain hal lagi orang tua yang mempunyai framework yang berbeda diantara keduanya, tidak akan dapat memenuhi kebutuhan anaknya. Karena kepentingan kedua yang saling mendominasi pada anaknya, sehingga akan membawa anak kepada ketidak pastian pribadi, anak akan mengalami apa yang dinamakan terpecahnya kepribadian. – Begitu juga bagi orang tua yang terpisah. Dalam kasus ini kehutuhan-kebutuhan alami sesuai dengan umur si anak tidak dapat diintergrasikan, karenanya kebutuhan-kebutuhan itu kemudian direpresi atau dipisah dalam kehidupan nyata. Dan ia akan hidup dalam suasana masa lalu tanpa menyadarinya, dan berlanjut untuk bereaksi terhadap bahaya-bahaya yang akan mengacam diri, meskipun saat itu sebenarnya sudah tidak membahayakannya lagi. Yang ada hanya berupa pertahanan diri sebagai perisai hidupnya.

Dalam sebuah studi lapangan yang dilakukan oleh Maryam dan Nova Akmalia, yang saat ini telah meraih kesarjanaannya, dari fakultas psikologi STAI Citra Didaktika, yang menunjukkan hasil bahwa anak yang rendah diri dan perilaku destruktif akibat dari berpisahnya kedua orang tua (bercerai).

Bagi anak-anak yang kedua orang tuanya berpisah, ia tidak dapat terpenuhi kebutuhan-kebutuhan yang sebenarnya, karena masing-masing orang tua yang berkepentingan. Sehingga anak di manfaatkan untuk keperluan dan kepentingan pribadi dan masing-masing orang tuanya. Hal ini mengakibatkan anak dimasanya kelak tidak mampu untuk mengontrol dirinya dan bertindak tanpa dasar kebutuhan dan keinginan dan dirinya.

Jalan Keluarnya

Jalan keluar untuk dapat memberikan kebutuhan anak dapat kita berikan 4 pola asuh, yaitu memberikan:

Kasih sayang; bukan berupa menyurahkan segala keinginan dan kemauan anak saja tetapi dapat meletakan kasih sayang itu pada tempatnya yang tempat guna. Kasih sayang dibutuhkan oleh seorang anak, kasih sayang di dambakan sia anak, bukan kasih sayang atas dasar kepentingan dan keinginan diri kita sebagai orang tua.

Pengertian; tahapan keduanya memberikan pengertian pada anak dengan mau memahami apa yang dilakukan dan diperbuat anak merupakan suatu coba uji yang harus kita menyampaikan dengan penuh pengertian, bukan berupa hukuman dan marahan, dan yang sering menyalahkan anaknya. Anak salah karena ia tidak mengerti atas kesalahannya, memberikan informasi dengan hukuman dan kesalahan atau marahan, tidak akan memberikan pemahaman bagi anak, sehingga kemungkian besar anak akan mengulangi lagi atas kesalahan tersebut.

Pendidikan; Tahapan ini kita dapat menunjukkanjalan mana yang baik dan buruk, jalan yang tentu sesuai dengan kemampuan dan kondisi si anak itu sendiri, hukan jalan yang kita inginkan, melainkan jalan yang henar-benar sesuai dengan diri anak itu sendiri, terhadap apa yang telah kita berikan pada tahapan pertama dan kedua.

Jadi Temannya; tahapan akhir ini kita mengajak musyawarah dan segala sesuatu dapat dibicarakan bersama, atau mengikut sertakan dalam pengambil keputusan dalam kehidupan bersama dilingkungan rumah.

Berharap dengan jalan ini akan memberikan generasi kita yang hidup tanpa tekanan masa lalu dan hidup dalam masa depan yang cermelang tanpa beban dan pendiritaan masa lalu.

==================================================================

Sumber:  Abubakar Baraja, S.Psi

Gambar : 1)2)3)4)

Kategori:Psikologi
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: