Beranda > Budaya > Selamatkan Hutan dengan Silat Harimau

Selamatkan Hutan dengan Silat Harimau


Selamatkan Hutan dengan Silat Harimau

Gabungan antara tari dan seni silat harimau asal Minangkabau disajikan dalam gelar budaya sekaligus kampanye Greenpeace Inisiatif Penyelamatan Hutan Rumah Harimau di Taman Ismail Marzuki.

Gelar budaya ini sekaligus hendak menunjukkan bahwasanya harimau saat ini tengah sekarat di habitatnya. Dalam gelar budaya yang diselenggarakan Jumat (16/9) di Teater Kecil TIM ini, sejumlah seniman menampilkan seni bela diri silat harimau yang digabungkan dengan tari. Mereka menampilkannya dalam aksi teatrikalRimbo Larangan. Rimbo Larangan berkisah dalam sebuah hutan,manusia datang dan membangun sebuah ladang.

Manusia-manusia ini membabat habis hutan dan menggantikannya dengan tanaman industri. Mereka tidak mengindahkan kelestarian hutan hingga seluruh penghuni hutan terganggu. Salah satunya habitat harimau. Para harimau ini mengincar manusia yang mengganggunya hingga kemudian terjadi perkelahian antara harimau dengan manusia.

Dan demikianlah adanya, harimauharimau yang tinggal di hutan menyerang penduduk karena habitatnya terganggu. Dalam aksi teatrikal ini, kolaborasi antara seni silat harimau dan tari kontemporer disajikandalamsatu panggung. Koreografer Rimbo Larangan Clarissa Yan Mari mengatakan dirinya mencoba menggabungkan tari khas Minang dengan seni silat harimau dalam sebuah perpaduan kesenian.

“Banyak unsur tari tradisional Minang yang saya masukkan bersama dengan gerakangerakan silat harimau,” tegas Clarissa. Gerakan-gerakan silat dan unsur tari Minang menjadi daya tarik tersendiri dalam pertunjukan ini. Gerakan silat harimau yang khas dengan serangan-serangan mematikan dan gerakan serangan bawah tersaji melalui padepokan silat harimau pimpinan Datuk Rajo Edwel Yusri.

Datuk Edwel Yusri yang juga salah satu koreografer gerak silat dalam film Merantau itu rela menampilkan silat harimau meski sebenarnya silat harimau tidak boleh dipelajari oleh sembarang orang. “Gerakan silat harimau ini sangat khas. Sangat mematikan karena serangan-serangannya sangat berbahaya. Oleh karenanya tidak sembarang orang bisa mempelajari silat harimau,” tutur Datuk Edwel Yusri.

Meski demikian, Datuk Edwel merasa senang bisa menampilkan kesenian di depan publik.Terlebih, gelar budaya ini juga sebagai bentuk kampanye dari Greenpeace tentang penyelamatan rumah harimau. Menurut Datuk, sejarah silat harimau bermula ketika kakek buyut Datuk Edwel, Inyiek Angguik, memiliki telepati turun-temurun.

Inyiek Angguik yang hidup pada zaman kolonial Belanda bahkan memelihara delapan ekor harimau di mana semuanya hidup liar di hutan Pasaman. Sesekali, harimau-harimau ini datang ke Inyiek Angguik saat Inyiek melatih jurus silat. Kadang seharian mereka bercengkerama di kolong rumah panggung. Konon, jurus silat harimau bermula dari gerakan alami saat harimau sumatera bergelut satu sama lain.

Alih-alih bersumber dari perang atau perkelahian, jurus silat ini justru tercipta dari rasa kasih sayang para datuk kepada para harimau mereka. Termasuk di antaranya adalah kakek buyut Datuk Edwel, Inyiek Angguik. “Bagi masyarakat Minangkabau, harimau sumatera ini sakral dan kami panggil inyiak (kakek) karena rasanya kasar sekali kalau harus menyebutkan dengan harimau saja,” tegas Datuk Edwel

Kategori:Budaya
  1. 9 Agustus 2016 pukul 10:02

    I’m curious to fiond out what bblog system you are using?

    I’m having some small security problems with myy latest blog
    and I’d like to find something more risk-free. Do you have any solutions?

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: