Beranda > Psikologi > PERILAKU DESTRUKTIF PADA ANAK

PERILAKU DESTRUKTIF PADA ANAK


Kasus Pada Anak Yang Orang Tuanya Bercerai

Latar Belakang Masalah

Perkembangan kepribadian anak terbentuk sejak anak dilahirkan. Lingkungan keluarga adalah lingkungan yang pertama dikenal oleh anak. Anak akan selalu memperhatikan apapun yang terjadi di sekitamya. Terutama sikap dan perlakuan setiap orang terhadap dirinya. ini terjadi rada bulan-bulan pertama kehidupannya. Setelah anak agak besar yaitu pada saat ia sudah mulai berpikir dan menangkap apa yang terjadi. bisa membedakan respon yang positif dan negatif, maka suasana keluarga menjadi suatu hal yang penting yang harus diperhatikan. Suasana keluarga ditentukan oleh kepribadian setiap anggotanya. Dan setiap anggota keluarga adalah unik sehingga suasana di dalam keluarga itu juga dipengaruhi oleh bagaimana cara setiap anggota keluarga merespon suasana dalam keluarganya. Suasana keluarga yang kacau atau teratur, kaku atau luwes, kompetitif atau kooperatif, konsisten atau tidak konsisten. ikut mempengaruhi perkembangan anak.

Suasana dalam keluarga yang membesarkan hati anggota keluarganya adalah suasana yang memberikan “kemerdekaan, respek. persamaan, standar yang realistik, kepercayaan, disiplin yang konsisten, memberikan semangat, kesempatan mengutarakan perasaan dan adanya kerjasama”. Sebaliknya suasana keluarga yang mengecilkan hati adalah suasana keluarga yang ditandai oleh sikap orang tua yang terlalu melindungi anak, memanjakan, menolak, otoriter, mengasihi, permisif, standar yang memberatkan anak, mengasihi, disiplin yang tidak konsisten, melemahkan, menolak perasaan anak dan persaingan. Tentu saja suasana keluarga yang berbeda ini dapat memberikan dampak yang berbeda pula kepada anak. Orang tua yang menghargai anak misalnya, maka si anak akan tumbuh menjadi anak yang bertanggungjawab atau orang tua yang menciptakan suasana keluarga yang penuh kepercayaan kepada anak, maka akan tumbuh menjadi anak yang percaya bahwa ia dapat mengatasi masalah. Sebaliknva orang tua yang merasa kasihan kepada anaknya, maka si anak akan tumbuh menjadi manusia yang selalu merasa kasihan terhadap dirinva sendiri atau jika orang tua terlalu memanjakan anak maka akan menjadi anak yang tidak bertanggungjawab.

Tidak ada cara yang paling benar untuk membimbing seorang anak Namun secara umum, orang tua harus konsisten dalam melakukan untuk membimbing dan mengendalikan perilaku anak adalah berusaha untuk memecahkan masalah secara kreatif. vaitu dengan memberikan alasan kepada anak, diharuskan atau tidak diperbolehkan melakukan suatu tidakan. dengan memberikan nasehat, berusaha memahami tingkah laku yang tidak benar yang di lakukan anak. mengurangi rasa takut anak. Membentuk keberanian, menanamkan sikap mandiri kepada anak. mempunyai rasa percaya diri dalam memelihara anak, membantu berpikir positif, mengembangkan kemampuan khusus, mengawasi anak dalam mencoba sesuatu, dan melatih anak menerima kegagalan.

Kehidupan keluarga yang serasi dan harmonis itulah yang sangat mendukung perkembangan anak yang baik. Namun suatu kejadian yang tidak diharapkan terjadi bisa menimbulkan pengaruh buruk pada anak-anak. Contoh yang sangat jelas adalah bila kedua orang tua mempunyai masalah di dalam hubungan perkawinan mereka. sehingga anak akan mengalami tekanan, tekanan dalam hidupnya atau suatu bentuk ketidakpuasan dalam dirinya. Yang pada akhirya melakukan tindakan atau perilaku destruktif sebagai rasa ketidakpuasan dalam dirinya akibat dari hubungan orang tuanya yang mengalami perceraian.

Perceraian sangat besar pengaruhnya dalam perkembangan jiwa anak yang sedang rnembutuhkan kasih sayang dan perhatian. dan membuat ketidakstabilan emosi anak. karena dalam hal inipun orang tua tidak sempat untuk memberikan perhatian. kasih sayang yang didambakan anak. karena sibuk dengan permasalahan yang membuat waktunya. tenaga serta pikirannya tersita memikirkan hal tcrsebut. Hal inilah yang akan membawa anak pada perilaku destruktif yang melanggar norma dan aturan dalam masyarakat dan hal inipun akan menjadi masalah besar bagi orang tua.

Perilaku destruktif merupakan tingkah laku yang dianggap sebagai tidak cocok. melanggar norma dan adat istiadat. atau tidak terintegrasi dengan tingkah laku umum atau penyimpangan tingkah laku atau perilaku destruktif atau patologis (Kartini Kartono, 1999, 2)

Senada dengan Kartini Kartono. Sumadi Suryabrata (1998) memandang Perilaku destruktif merupakan tingkah laku atau reaksi organisme sebagat keseluruhan terhadap perangsang dari luar yang menyimpang. Reaksi tersebut terdiri dari gerakan-gerakan dan perubahan jasmani tertentu, Jadi dapat diamati secara obvektif.

Pola kriminal ayah, ibu, atau salah seorang anggota keluarga dapat mencetak pola kriminal hampir semua anggota keluarga lainnya. Oleh karena itu tradisi, sikap hidup, kebiasaan dan filsafat hidup keluarga itu besar sekali pengaruhnya dalam membentuk tingkah laku dan sikap setiap anggota keluarga. Dengan kata lain, tingkah laku kriminal orangtua mudah sekali menular kepada anak-anaknya. Lebih-lebih lagi perilaku ini sangat gampang di oper oleh anak-anak puber dan adolescents yang belum stabil jiwanya. dan tengah mengalami banyak gejolak batin. Temperamen orang tua. terutama dari ayah yang agresif meledak-ledak, suka marah dan sewenang-wenang, serta kriminal, tidak hanya akan mentransformasikan defek tempramennya saja. akan tetapi juga menimbulkan iklim yang mendemoralisir secara psikis sekaligus juga merangsang reaksi emosional yang sangat impulsive kepada anak-anaknya. Pengaruh sedemikian ini menjadi semakin buruk terhadap jiwa anak-anak remaja sehingga mereka mudah dijangkiti kebiasaan criminal tersebut. Tak diragukan. bayangan paling dominan sekaligus terburuknya selalu menghantui anak kecil dan tak akan pernah hilang adalah pertengkaran yang ia saksikan antara ayah dan ibunya. Meskipun tak tampak. Peristiwa pahit yang tak menyenangkan ini akan selalu tergambar dalam benak sang anak. Peristiwa keributan dan pertengkaran orang tua yang berdampak bagi mental anak-anak mereka adalah hal yang patut kita sesalkan. Umumnya anak-anak yang hidup dalam lingkungan seperti itu akan mengalami trauma dan akan memandang secara sinis lembaga pernikahan dan pembentukan keluarga. Ia akan menganggap kehidupan semua lelaki dan perempuan tak ubahnva seperti yang dilakukan ayah dan ibunva. Baginya. semua rumah tangga adalah sama. yaitu arena pertengkaran dan sarang ego. Selain itu. sifat buruk emosional. kasar yang terbangun dalam lingkungan keluarga akan membekas dalam diri seorang anak. Kelak sifat tersebut akan teraktualisasi manakala ia membangun rumah tangga. Dan anak-anak tersebut kelak akan menjadi orang yang suka menyendiri dan menyepi. tidak sabaran dan gampang marah. Dalam kondisi seperti itu. banyak diantara mereka akan mengalami penyimpangan atau perilaku destruktif.

Salah satu hal yang menyebabkan anak kurang kasih sayang adalah perceraian. Perceraian dalam keluarga itu biasanya berawal dari suatu konflik antara anggota keluarga. Bila konflik ini sampai titik kritis maka peristiwa perceraian itu berada di ambang pintu. Dan perceraian menupakan perpisahan antara suami istri selagi keduanva masih hidup.

Perceraman dan konflik-konflik yang menjerumus pada perceraian membuat orang tua terlalu lelah. Pikirannva terpecah atau terlalu murung untuk menjadi penegak-penegak disiplin yang berhasil. kesulitan mengendalikan dan memantau tingkah laku anak merupakan masalah mengasuh anak yang paling sulit dihilangkan yang dihadapi oleh para ibu yang telah bercerai. dan orang tua dalam perkawinan bermasalah menjadi contoh buruk bagi anak-anak mereka mengenai bagaimana bergaul dengan orang lain.

Dengan adanya perceraian. banyak sekali timbul hal hal yang tidak diinginkan. terutama pada anak karena bentuk ketegangan dan konflik familial itu mengakibatkan bentuk ketidakseimbangan kehidupan psikis anak serta perselisihan rumah tangga memiliki efckefek yang mendalam terhadap kemampuan anak-anak untuk bergaul dengan teman-teman sebaya.

Dari perceraian, anak-anak juga kurang mendapatkan kasih sayang dan perhatian dan orang tua itu selalu merasa tidak aman, merasa kehilangan tempat berlindung dan tempat berpijak. Di kemudian hari mereka akan mengembangkan reaksi kompensatoris dalam bentuk dendam dan sikap bermusuhan terhadap dunia luar. Ada kalanya dia secara terang-terangan menunjukkan ketidakpuasan terhadap orang tuanya, dan mulai melawan atau memberontak, sambil melakukan tindakan destruktif merusak yang tidak terkendali, baik terhadap dunia luar yang kelihatan tidak ramah baginya.

Hubungan antara perkawinan dan tingkah laku anak dengan teman-teman mereka sangatlah erat kaitannya. Anak-anak yang perkawinan orang tuanya menyedihkan,  kurang bekerja sama dalam bermain dan mempunyai lebih banyak interaksi negative dengan teman teman bermain mereka daripada anak-anak yang orang tuanya bahagia perkawinanya.

Perceraian dan konflik perkawinan dapat menempatkan anak-anak pada suatu lintasan yang menjurus pada masalah-masalah berat dikemudian hari. Kesulitan dapat dimulai pada awal masa kanak kanak dengan keterampilan-keterampilan pergaulan yang buruk dan tingkah laku garang, yang menjurus pada penolakan oleh rekan sebaya. Orang tua, karena terganggu oleh masalah-masalah mereka sendiri, kurang waktu serta perhatiannya bagi anak-anak mereka. Jadi. anak anak itu larut, tanpa terawasi, menuju ke sebuah kelompok rekan sebaya yang lebih bandel.

Secara naluriah, anak sebagai manusia yang masih perlu contoh contoh sikap-sikap keteladanan, serta perhatian dari orang dewasa adalah tidak mustahil pada suatu waktu bila orang dewasa lari dari tugas dan tanggungjawabnya. mereka akan lari juga.

 

LANDASAN TEORITIS

Perilaku Destruktif

Menurut Hamid Abdul Khalik Hamid perilaku destruktif adalah tindakan melanggar norma yang dilatarbelakangi oleh factor-faktor emosi yang terpendam, seperti prasaan minder atau benci terhadap pengekangan. Dengan demikian, maka tindakan destruktif ini merupakan gejala timbulnya rasa ingin balas dendam, atau ingin membuktikan eksistensi dirinya.

 

Menurut Ali Qaimi perilaku destruktif ditampakkan lewat perilaku dan sikap kasar, menentang, tidak suka, menolak, serta membantah keinginan tertentu. Seorang anak cenderung berbuat sesuatu yang hanya bermanfaat bagi dirinya sendiri dan merubah suasana sekehendak hatinya. Adapun kecenderungan melampaui batas perilaku destruktif pada anak-anak beragam bentuk dan rupanya. Diantaranya: Secara lisan, seperti mengejek, mencemooh, menghina, mengumpat, menggunjing, melontarkan pertanyaan bernada hina, yang mengguncang perasaan orang tuanya, mengeluarkan ancaman secara lisan maupun tindakan, seperti mengepalkan tangan dan mengarahkannya ke muka anak lain, menyerang dan merusak secara berlebihan, merebut mainan, menyingkirkan dan mendorong anak lain yang tengah bermain atau menguasai tempat bermain anak-anak, memukul dan melukai anak lain demi meraih dan merebut barang miliknya, meludahi muka anak lain atau menyerangnya secara tiba-tiba dan lain-lain.

Dan kepribadian anak-anak yang memiliki perilaku destruktif ini adalah anak yang cenderung meraih kebebasan absolut dan menolak berbagai aturan dan tatanan yang ada, terbiasa melakukan sesuatu yang bertolak belakang dengan norma-norma sosial, egois dan degil, sehingga tidak mempedulikan dan mengindahkan aturan serta norma yang ada.

 

Adapun beberapa faktor penyebab perilaku destruktif anak adalah

  1. Pendidikan, dukungan yang berlebihan, terlalu memanjakan, dan memuji secara berlebihan merupakan faktor lain yang dapat membuat seorang anak menjadi cenderung melanggar dan melampaui batas.
  2. Emosional, berkaitan dengan masalah melanggar dan melampaui batas, faktor emosional sangat berpengaruh dan menjadikan si anak memiliki kepribadian dan perilaku semacam itu, karena mereka pada masa kanak-kanaknya tidak merasakan ketenangan dan kasih sayang, seperti kekurangan kasih sayang akibat hancurya sendi-sendi hidup keluarga serta hidup jauh dari naungan ayah dan ibu.

 

Perceraian

Banyaknya kasus perceraian di kalangan keluarga ini, karena tidak adanya komunikasi dan kontrol antara anggota keluarga mereka. Setiap orang dapat tcrpengaruh oleh perilaku lingkungan keluarganya. Lingkungan keluarga yang baik adalah bilamana dapat mengawasi. Mengoreksi, dan mcmperbaiki berbagai bentuk penyimpangan anggota keluarganya. Misalnya, anak yatim yang hidup tidak seperti anak kebanyakan, akan memiliki kebebasan berbuat berdasarkan pengalamannya. Apabila kelak dia berkeluarga. dia akan bebas mengambil keputusan, termasuk didalamnya memutuskan cerai. Dia merasa tidak ada yang mengawasi dirinya sebagaimana ketika masih sendiri, tanpa orang tua, dimana segala keputusannya dianggap tidak akan mengakibatkan perpecahan maupun pengusiran bagi dirinya sendiri maupun orang lain.

Hetherington mengadakan penelitian terhadap anak-anak berusia 4 tahun pada saat kedua orang tuanya bercerai. Peneliti itu ingin mcnyelidiki apakah kasus perceraian itu akan membawa pengaruh bagi anak usia di bawah 4 tahun dan di atas 4 tahun. Hasilnya menunjukkan bahwa kasus perceraian itu akan membawa trauma pada setiap tingkat usia anak, meski kadar berbeda. Setiap tingkat usia anak dalam menyesuaikan diri dengan situasi baru ini memperlihatkan cara penyelesaian berbeda. Kelompok anak yang belum berusia sekolah pada kasus saat ini terjadi, ada kecenderungan untuk mempersalahkan diri bila ia menghadapi masalah dalam hidupnva. Ia menangisi dirinya. Umumnva anak usia kecil itu sering tidak betah, tidak menerima cara hidup yang baru. Ia tidak akrab dengan orang tuanya, anak ini sering dibayangi rasa cemas, selalu ingin mencari ketenangan. Kelompok anak yang sudah menginjak usia besar pada saat terjadinya kasus perceraian memberi reaksi lain. Kelompok anak ini tidak lagi menyalahkan diri sendiri, tetapi memiliki sedikit perasaan takut karena perubahan situasi keluarga dan merasa cemas karena ditinggalkan salah satu orang tuanya. Dan jika perceraian dalam keluarga itu terjadi saat anak menginjak usia remaja, mereka mencari ketenangan, entah di tetangga, sahabat atau teman sekolah.

Kasus perceraian membawa akibat yang sangat mendalam, menimbulkan ketidakstabilan emosi, mengalami rasa cemas, rasa tertekan, sering marah-marah dan tercipta perasaan yang tidak menentu.

Kasus perceraian juga dapat menghambat perkembangan anak, terganggunya pergaulan dengan teman sebaya, anak berkembang tidak stabil terutama ketika bergaul dengan teman-temannva, kurang imajinatif dan daya kreatif kurang.

 

HASIL PENELITIAN

Berdasarkan Penelitian yang dilakukan Periaku destruktif yang kerap dilakukan anak yang orang tuanya bcrcerai, diantaranya:

1. Bila teman bermain, ikut serta dan mengganggunya

Hal ini terlihat dari perilaku responden, bila teman sedang bermain, ikut serta mengganggunya, sebanvak 55% menjawab selalu mengganggu.

5% menjawab sering mengganggu, 15 % menjawab kadang-kadang dan jarang mengganggu, dan 10% menjawab tidak pcrnah mcngganggu.

2. Melukai teman

Hal ini terlihat dari perilaku responden, yang melukai temannya, sebanyak 55% menjawab selalu melukai teman, 30% menjawab sering melukai, 10% menjawab kadang—kadang, 5% menjawab jarang melukai teman.

3. Melanggar tata tertib sekolah

Hal ini terlihat dan perilaku responden yang mcfanggar tata tertib sekolah. sebanyak 45% menjawab selalu melanggar tata tertih, 30%

menjawab kadang-kadang, 15% menjawab jarang, 10% menjawab tidak pernah melanggar tata tertib.

4. Membantah Nasehat

Hal mi terlihat dan perilaku responden yang membantah nasehat orang tu. sebanvak 55% menjawab selalu membantah. 30% menjawab sering membantah. 10% menjawab kadang-kadang. 5 % menjawab tidak pernah membantah nasihat orang tua.

5. Merusak Barang

Hal ini terlihat dan perilaku responden selalu merusak barang sebanyak 30% dan tidak pernah. 10 % menjawab sering dan jarang, 20 % menjawab kadang-kadang merusak barang.

6. Menghina Teman

Hal ini terlihat dari perilaku responden yang selalu menghina teman, sebanvak 55%, 30%  menjawab sering menghina, 10% menjawab kadang-kadang, dan 5 % menjawab jarang menghina teman.

7. Memukul teman

Hal ini terlihat dari perilaku responden yang selalu memukul teman, sebanvak 70%, 10 % rnenjawab sering memukul, jarang. Dan tidak pernah memukul teman.

8. Membuat kegaduhan dalam kelas

Hal ini tenlihat dan perilaku responden yang membuat kegaduhan dalam kelas, sebanyak 40 %. sebanyak 15 % menjawab sening, kadang-kadang, jarang, dan tidak pernah.

9. Bermain sesuka hati

Hal ini terlihat dan perilaku responden yang bermain sesuka hati sebanak 30% menjawab jarang 20 % sering, tidak pernah dan 10 % menjawab kadang-kadang bermain sesuka hati.

10. Marah bila diejek

Hal ini terlihat dan perilaku responden yang selalu marah bila diejek sebanyak 30% dan jarang, 5% menjawab sering, 20 % menjawab kadang-kadang, dan sebanyak 15% menjawab tidak pernah marah jika diejek.

11. Bangga mendapat hukuman

Hal ini terlihat dari perilaku responden yang selalu bangga mendapat hukuman sebanyak 70%, 10% menjawab kadang-kadang dan jarang, serta 5% menjawab sering dan tidak pernah mendapat hukuman.

12. Membalas olokan teman

Hal ini terlihat dari perilaku responden yang selalu membalas olokan teman, sebanyak 45 %, 10% menjawab sering dan tidak pernah. 20% menjawab kadang-kadang, 15% menjawab jarang membalas olokan teman.

13. Menentang guru dan orang tua

Hal ini terlihat dan perilaku responden yang selalu menentang guru dan orang tua. sebanvak 75%. 10% menjawab sering. dan 5% menjawab kadang-kadang, jarang. serta tidak pernah menentang orang tua.

14. Bersikap kasar

Hal ini terlihat dari perilaku responden yang selalu bersikap kasar sebanvak 75%, 10 % menjawab sering, dan 15 % menjawab tidak pernah bersikap kasar.

15. Tidak suka diatur-atur

Hal mi terlihat dari perilaku responden yang selalu tidak suka diatur oleh orang tua sebanyak 30%, 25% menjawab sering dan kadang-kadang, dan 15% menjawab tidak pernah dan 5 % menjawab jarang.

16. Bangga menjadi orang yang ditakuti

Hal ini terlihat dari perilaku responden yang selalu menjadi orang yang ditakuti. sebanyak 80%, 10% menjawab sering dan tidak pernah bangga menjadi orang yang ditakuti

17. Bertengkar dengan teman

Hal mi terlihat dari perilaku responden yang selalu. bertengkar dengan teman, sebanyak 50%. 10% menjawab sering bertengkar dengan teman. dan 20% menjawab kadang-kadang. 15 % menjawab jarang. dan 5% tidak pernah bertengkar dengan teman

18. Marah mendapat teguran keras

Hal ini terlihat dari perilaku responden yang selalu bertengkar dengan teman sebanvak 55%, 10% menjawab sering bertengkar dengan teman, dan 15% menjawab kadang-kadang, dan 20% tidak pernah bertengkar dengan teman,.

19. Mengutak atik barang hingga rusak dan berantakan

Hal ini terlihat dari perilaku responden yang selalu mengutak-atik barang, sebanyak 70%, 5% kadang-kadang mengutak-atik barang, 10% menjawab jarang, dan 15% menjawab tidak pernah mengutak-atik barang.

 

Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan. diperoleh hasil bahwa:

1. 80% anak korban perceraian. bangga menjadi orang yang ditakuti. 75% anak-anak menantang orang tua dan guru. 70% sering memukul teman, bangga mendapat hukuman, sening mengutak atik barang hingga rusak dan berantakan, 55% bila bermain selalu ikut serta dan mengganggunya, melukai ternan, membantah nasehat, menghina teman, dan marah bila mendapat teguran keras, 50% bertengkar dengan teman, 45% melanggar tata tertib sekolah, membalas olokan teman, 40% membuat kegaduhan dalam kelas, 30% merusak barang. tidak suka diatur-atur, bermain sesuka hati, dan marah bila diejek.

2. Berdasarkan prosentase keseluruhan dan penelitian yang dilakukan. maka perceraian sangat bcrpengaruh dan berdampak besar sekali bagi perkembangan anak, sehingga menyebabkan kecenderungan anak melakukan perilaku destruktif.

3. Kurangnya perhatian, bimbingan, perlindungan, dan kasih sayang orang tua merupakan awal dari rasa ketidakpuasan anak pada orang tuanya dan realita kehidupan yang dihadapinya yaitu perceraian kedua orang tuanya, sehingga anak mencari kepuasan di luar dan mencari kompensasi dalam lingkungannya dalam bentuk perilaku yang melanggar agar mendapatkan perhatian dari orang tuanya.

 

 

Tim Peneliti STAI Citra Didaktika Jakarta

Nova Akmalia & Tholib Kasan

 

Kategori:Psikologi
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: