Sudahkah Guru “Mengenal” Muridnya?


Sudahkah Guru “Mengenal” Muridnya?

Kajian Praktis Mengajar di Kelas Usia Dini

Oleh : Ade Bachtiar

Pendahuluan

Kedewasaan adalah tujuan yang diharapkan oleh para pendidik bagi anak didik mereka. Beragam kriteria kedewasaan yang diramu dalam berbagai sasaran pendidikan secara terus menerus dianalisis dan diujicobakan dalam rangka tercapainya kedewasaan dengan cara yang lebih mudah bagi para siswa.

Meskipun konsep yang menyediakan berbagai rencana proses pendewasaan tersebut belum tentu dapat dipahami secara benar dan komprehensif oleh para pendidik yang disebabkan adanya berbagai hambatan yang dimiliki dan dihadapi oleh setiap pendidik serta lembaga yang mengadakan proses pendewasaan ini, namun semangat tinggi dari semua pendidik dalam mendewasakan peserta didik merupakan modal yang sangat besar bagi pencapaian proses ini.

Di kelas usia dini seperti Taman Kanak-kanak dan Sekolah Dasar, Kegiatan Belajar mengajar di kelas dengan jumlah waktu yang ditentukan merupakan kawah penggodokan anak-anak menuju kedewasaan. Pada saat inilah para guru hendaknya mempersiapkan diri secara benar dan well-prepared dalam melaksanakan pengajaran. Terkadang, karena berbagai faktor hambatan, para guru terjebak pada situasi tanpa arah, monoton, tidak membuahkan hasil yang memuaskan. Sehingga pada suatu hari ada seorang ayah bertanya pada anaknya sepulang sekolah, “Nak, tadi belajar apa di sekolah?”. Kemudian anaknya menjawab sambil menggaruk-garuk kepala, “Gak tahu Yah, pak gurunya marah-marah, abis gitu pak gurunya trus pergi…”. Ayahnya menatap penuh tanda tanya pada sang anak yang akhirnya pergi tanpa solusi.

Ketika suatu rencana pengajaran dipersiapkan dan digelar pada sebuah pengajaran di kelas, situasi pemindahan pengetahuan terjadi dari guru kepada para siswa. Pada prosesnya semua anak akan mengalami transfer pengetahuan dengan kemampuan dan tingkat pencapaian yang bervariasi. Dari hasil pencapaian inilah setiap guru mulai dihadapkan pada kondisi dimana ia sudah atau belum mengenal para siswa dengan sebenarnya. Dengan bervariasinya nilai yang diperoleh para siswa, apa yang harus guru-guru lakukan?. Apakah ia akan melewatinya begitu saja, bahkan tanpa ekspresi?.

Suatu hari penulis menyimak dengan begitu khusuknya pernyataan seorang ibu ahli pendidikan yang mengatakan dalam sebuah seminar bahwa, mendidik dan mengajar dengan niat (motivasi) dan cara-cara yang benar bagi seorang guru merupakan ladang amal yang nilainya tidak akan putus-putusnya (amal jariyah) bahkan hingga akhir hayat. Tetapi sebaliknya jika proses mendidik dan mengajar ini dilaksanakan dengan niat (motivasi) serta cara-cara yang tidak benar; misalnya tidak meratanya pemahaman siswa tentang ilmu yang diajarkan, tidak tuntasnya pengetahuan, atau cenderung asal-asalan, maka bagi seorang guru akan bernilai dosa yang tidak putus-putusnya (dosa jariyah), bahkan hingga akhir hayatnya. Betapa luar biasanya pekerjaan ini.

Kembali kepada persoalan mengenal para siswa tentunya akan melibatkan berbagai macam kemampuan dan kegiatan yang harus dilakukan oleh para guru baik internal, yang meliputi; tingkat kemampua siswa, kebiasaan siswa, kebutuhan siswa, hobby, teman yang disukai , keterampilan yang dimiliki, emosi dan lain-lain), serta faktor eksternal , yang meliputi; keadaan orang tua, tingkat ekonomi, keterlibatan orang tua, perhatian, komunikasi and lain-lain), yang sebaiknya dirancang sejak pertama kali mengenal siswa dihadapannya, kemudian dilakukan tindakan lanjutan yang dituangkan dalam sebuah buku laporan yang memuat berbagai prilaku siswa dari mulai pengamatan kegiatan harian, hingga hasil-hasil nilai akademik seperti ulangan harian, ulangan tengah semester dan seterusnya.

Dengan kelengkapan daftar pengamatan tersebut diharapkan para guru akan mendapatkan kemudahan dalam proses pengenalan para siswanya dengan segala apa adanya, termasuk berbagai kemampuan dan apa yang harus diberikan kepada mereka sebagai bantuan dalam menajalani proses perjalanan menuju kedewasaan mereka.

Ada Apa Dengan KBK dan KTSP

Munculnya Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) dan kemudian disusul dengan hadirnya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), terlepas dari adanya segala kekurangan, menurut pendapat penulis ini merupakan satu langkah maju meskipun disisi lain Ujian Akhir Nasioanl (UAN) seperti mata rantai yang terputus. Mengapa demikian, didalam kedua kurikulum tersebut, orientasi pendidikan dan pengajaran ditekankan pada tercapainya kompetensi dari setiap sasaran pengajaran yang disesuaikan dengan kemampuan siswa. Tentunya, dalam prosesnya pun semua bentuk kegiatan dan alat ukur kemampuannya harus disesuaikan dengan kemampuan siswa, hingga nanti muncul remedial/pembelajaran ulang (bagi siswa yang memiliki hambatan) dan enrichment/pengayaan materi (bagi siswa yang mengalami percepatan dalam belajar).

Beberapa tahun silam, penulis pernah mempelajari prinsip belajar tuntas yang bila dihubungkan dengan konsep KTSP, terdapat kaitan yang erat, yakni pada pelaksanaan kegiatan pembelajaran dan pengukuran tingkat pencapaiannya, dimana bila ada beberapa siswa yang mengalami hambatan dalam pencapaian nilai tidak dinyatakan gagal melainkan akan diberikan bimbingan dengan cara dan tingkat kesulitan yang sesuai dengan kemampuan mereka dalam waktu yang ditentukan. Inilah yang disebut sebagai remedial. Sedangkan bagi yang berhasil dan yang mengalami percepatan akan diberikan pelajaran lanjutan dan tambahan. Inilah yang disebut dengan Enrichment.

Bila guru yang benar-benar mengenali siswanya tentunya ia akan melakukan kegiatan semacam ini. Bagi siswa sendiri, kegiatan yang disajikan ini akan menjadi motivasi yang sangat besar bagi mereka. Mereka akan merasa sangat diterima oleh lingkungannya. Tidak ada label pecundang bagi mereka yang mengalami kegagalan dalam pencapaian nilai satu mata pelajaran atau satu kemampuan tertentu.

Kurikulum terkini pun mengamanatkan kepada setiap guru untuk mengakomodasi setiap kemampuan yang dimiliki atau muncul pada siswa setelah mengalami penggalian dalam belajar, dengan memberikan berbagai fasilitas yang mempermudah mereka dalam mencapai kemandirian, stabilitas emosi, sosial dan perasaan utuh sebagai manusia yang memiliki kemampuan.

Sayangnya, adanya UAN (Ujian Akhir Nasioanl) yang dilaksanakan pada akhir kegiatan pembelajaran di kelas akhir menjadikan sebuah kapak pemutus satu rangkaian utuh dalam lingkaran perjalanan pendidikan para siswa. Bagi siswa-siswa yang mengalami kesulitan dan sangat kesulitan dalam penguasaan mata pelajaran yang disajikan dalam UAN, peristiwa ini akan menjadi sebuah horor yang menakutkan sepanjang sejarah hidupnya. Label Pecundang akan muncul kembali dalam benak mereka, Ya Allah, Ya Tuhan, mengapa aku terlahir dengan kemampuan yang tidak terpakai?, tidak ada pengakuan?, Bukan termasuk lambang kecerdasan?. Apakah standar orang cerdas harus lulus mata pelajaran yang di-UAN-kan?. Lalu apakah kemampuan di luar mata pelajaran itu adalah sekumpulan manusia terkutuk yang tidak cerdas?. Lalu mengapa ada Intelgensi dan Emosi?. Mengapa ada akal dan hati?. Dan ternyata, untuk memperjuangkan label manusia cerdas, banyak para guru yang terjerembab kedalam jurang nista dengan menukar kasih sayang yang salah, mereka menipu, berbohong, dengan dalih perjuangan agar semua siswa tersayang mendapat label siswa cerdas melalui lulus UAN. Mengerikan sekali.

Walaupun demikian, semoga ini merupakan pembelajaran bagi kita semua dalam proses mengenali siswa-siswa kita agar mereka dapat berhasil dengan kemampuan yang hakiki, terbina dan bukan diperjuangkan dengan penipuan dan kebohongan.

Indikator Guru yang “Mengenali” Siswanya

Seorang guru yang dinyatakan mengenal siswanya adalah apabila:

Memiliki alasan yang rasional dan produktif mengapa ia mendidik.

Memiliki kemampuan dalam bidangnya

memiliki dan memahami serta melaksanakan perencanaan pengajaran, program pengamatan, Program Komunikasi dengan orang tua, alat-alat pembelajaran dan penilaian, laporan perkembangan belajar siswa beserta analisisnya, dan lain-lain.

Mau dan Mampu berkomunikasi dengan baik dengan semua elemen yang mendukung proses perkembangan siswa baik fisik maupun mental

Mau dan Mampu bekerjasama dengan Orang tua siswa

Bersedia dan mampu menjadi tempat mengeluh semua siswanya serta aktif memberikan dan mencarikan solusi yang terbaik bagi mereka.

Mau dan Mampu mengakomodasi setiap siswanya dengan beragam kemampuan yang mereka miliki.

Indikator Siswa Yang “Dikenali” Gurunya

Merasa nyaman dan semangat tinggi belajar bersama gurunya.

Merasa yakin akan kemampuan gurunya dengan dibuktikan adanya peningkatan kemampuan yang nyata dan berkelanjutan.

Terbimbing dan mendapat fasilitas yang beragam serta merasa begitu dekat dengan guru dan orang tuannya.

Merasa diterima semua orang dan lingkungannya dengan keadaan lahir dan bathin yang dimiliki.

Merasa nyaman setiap saat dan dimanapun mereka berada, terutama di sekolah dan di rumah

Terbuka, komunikatif dan selalu optimis dalam menjalani hidup, dalam belajar, bergaul karena merasa ada jaminan dan dorongan dari orang tua dan gurunya.

Tahapan “Mengenali” Siswa

Dalam proses mengenali siswa, beberapa hal yang harus dimilki dan dipersiapkan guru adalah:

Perhatikan, pahami dan laksanakan indikator diatas, lebih kreatif lagi bila ditambahkan.

Optimalkan sinergi akal dan hati sehingga menjadi sebuah rencana hidup apa arti pendidikan dan pengajaran, tujuannya, sasarannya, manfaatnya, cara-caranya, bagaimana mengukurnya, analisis serta laporan hasil dari upaya-upaya yang telah dilakukan.

Persiapkan berbagai rencana yang tertulis dalam bentuk format-format; pengamatan, berbagai kegiatan komunikasi, berita kasus dan lain-lain sehingga setiap peristiwa yang dialami siswa akan tersimpan dalam data yang akurat, waktu, peristiwa dan penyelesaiannya.

Selalu berhubungan dengan ahli yang mengerti tentang manusia dan segala fenomenanya, baik melalui personal maupun kelembagaan, dengan tujuan mengoptimalkan pencarian solusi dari setiap gejala yang timbul dalam diri anak.

Selalu terbuka dengan siswa, peduli dari setiap sifat, sikap, karakteristik, dan segala masalah mengenai mereka. Lakukan dengan penuh simpatik dan empatik, kasih sayang, keikhlasan, antusias, , dukungan , penghargaan, pemeliharaan dan lain-lain.

Evaluasi

Satu kegiatan dapat dinayatakan berhasil atau tidak harus dibuktikan dengan pengukuran (Evaluasi). Begitupula dalam proses mengenali siswa, tercapai tidaknya upaya guru dalam mengenali siswa yaitu dengan pengukuran yang tentunya dengan menggunakan alat ukur. Alat ukur ini akan berbeda untuk setiap bidang/norma/kegiatan yang akan diukur. Juga bentuk dan alat ukur untuk setiap siswa akan berbeda disesuaikan dengan tingkat serta jenis kemampuan yang dimiliki siswa.

Kebutuhan pengukuran dan alat ukur ini menguras energi yang luar biasa bagi para guru karena ia harus mempersiapkan berbagai jenis alat ukur dan pelaksanaannya. Misalnya, bagi siswa yang mengalami hambatan dalam mata pelajaran Matematika akan diberikan pengukuruan dengan alat ukur yang tingkat kesuiltannya lebih mudah dibanding yang mampu, meskipun pokok bahasan sama. Selain itu, siswa yang mengalami kelemahan dalam bersosialisasi akan diberikan evaluasi yang sesuai dengan pencapaian kemampuannya. Misalnya, dibiasakan tersenyum, menatap, berterima kasih dan lain-lain. Sedangkan bagi siswa yang cepat dalam bersosialisasi dievaluasi dengan cara bagaimana ia mampu mengkoordinasikan sumbangan bencana alam di kelasnya. Sehingga semua siswa akan mendapatkan peran yang seimbang dengan apa yang mereka mampu dan miliki.

Demikian tulisan ini semoga bermanfaat bagi kita semua. Wallaahua’lam Bishowaab.

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: