Menemukan Rasa Damai


Pada suatu malam, sepasang kekasih berjalan-jalan di sepanjang pantai. Mereka menemukan tempat yang tenang untuk menggelar karpet lalu duduk santai sambil melihat matahari terbenam. Mereka membawa daging ayam sebagai bekal makan dan sebotol minuman rasa buah. Sang pria menuangkan minuman dan bersulang untuk kebahagiaan mereka. Sang wanita menyiapkan bekal. Pemandangan begitu dama dan romantic, tetapi mereka tidak sendirian.

Sang wanita menatap segerombolan burung camar laut yang penuh harap diberi makan dan melemparkan serpihan daging terakhirnya. Seekor camar beruntung tepat berada di arah lempengan daging. Ia membuka paruhnya dan menyambut daging itu. Terdengar suara kepakan sayap yang riuh. Jeritan melengking seakan memecah udara. Lusinan burung menyambar potongan makanan dari wanita itu, dan camar pertamalah yang menang.

Camar yang berhasil mendapatkan makanan itu kemudian melesat cepat keudara menuju laut terbuka dan langit yang terbentang, tetapi camar-camar yang lain tidak mau menyerah. Duapuluh lebih burung dengan bernafsu menyerang dengan bersama-sama. Setiap camar ingin mendapatkan apa yang diperoleh camar pertama tersebut. Tak ada ampun demi mendapatkan potongan makanan yang mereka inginkan. Beberapa camara mencoba merebut potongan daging yang ada dalam paruh burung pertama. Burung-burung lain, yang nampaknya telah melupakan sasaran mereka sebenarnya, menyerang burung pertama itu sendiri. Mereka berciut-ciut dan mematuknya, tetapi camar juara tadi terus terbang. Ia telah memenangi potongan daging ayam dalam pertarungan yang adil, keberuntungan telah menghadiahkan makanan enak ini kepadanya, dan ia tak hendak memberikan apa yang telah ia menangi.

Akan tetapi, pertempuran belum berakhir. Camar-camar lain belum mau undur diri. Tantangan di depan mata meraka, dan mereka menginginkan hadiahnya. Semakin lama, camar yang menjadi juara tersebut menjadi semakin berat mempertahankan sepotong daging ayam yang ia peroleh. Akhirnya, karena merasa letih dan penat akibat mencoba mengatasi semua rintangan yang menghadangnya, camar itu mulai mempertanyakan apakah potongan daging yang ia dapatkan tersebut memang layak dipertahankan. Berapa harga yang harus ia bayar untuk mempertahankan sekerat daging ini? Apakah ia pantas memperjuangkannya mati-matian?

Dalam taraf tertentu, camar itu menyadari bahwa akan tiba saatnya dia harus melepaskan apa yang selama ini ia bawa. Akan tetapi saatnya konsekwensi perjuangan menjadi tidak sebanding dengan hasil yang ia dapatkan. Ia buka paruhnya, membiarkan potongan daging ayam itu jatuh, dan hanya bisa menyaksikan saat seekor burung yang lain melesat ke bawah untuk menangkap daging itu. Para penyerangnya dengan cepat menemukan sasaran baru. Pertempuran bergeser ke tempat lain, dan camar yang pertama merasa lega.

Ia ingat pepatah yang sering diulang-ulang oleh burung laut : “Masih ada banyak ikan di laut.” Ia tahu bahwa ia tidak akan kelaparan atau terlantar. Ia yakin dengan keterampilannya berburu dan sadar akan kesempatan yang menunggunya. Karena sekarang sudah tidak bertengkar lagi dengan burung-burung lain, ia bebas memanfaatkan waktu yang ada untuk mencari makanan yang lain dengan santai. Kini, ia punya kemana dan kapan ia akan mencari hal-hal yang akan memelihara, memuaskan, dan membuatnya bahagia. Untuk bertahan hidup, ia tidak perlu melakukan pertempuran.

Sekali lagi, ia berputar di udara. Kali ini bukan untuk menghindari serangan, melainkan hanya untuk bersenang-senang. Ia membubung setinggi diterpa angin laut yang menyegarkan, hingga dari jauh tampak seperti sebuah titik di tengah langit nan biru. Di atas perebutan dan pertempuran yang terus berlanjut antara burung-burung yang lain, camar itu menikmati kebebasan dan ketenangan.

Sepasang kekasih yang duduk di pantai, menikmati piknik matahari terbenam mereka melihat seekor camar laut memisahkan diri dari kumpulan burung yang asik berebut makanan. Mereka mngikuti siluet camar tersebut yang mengapung dengan santai menjelajahi sinar temaram matahari yang pelan-pelan terbenam. Mereka berpelukan, merasakan ketenangan dan kedekatan pada saat siang menjelma malam.

Burung camar itu juga merasakan penyatuan dengan keheningan dunianya. Katanya kepada diri sendiri, “Aku mungkin kehilangan sekerat daging, tetapi kudapatkan ketenangan di langit nan tinggi.”

=============================================================

Ciri-ciri Terapeutik

Masalah-masalah yang coba dipecahkan :

1. Konflik dan perjuangan

2. Perjuangan yang melelahkan

3. Kebutuhan untuk mempertahankan hal-hal yang tidak penting

Keterampilan Khusus yang Dikembangkan:

1. Belajar memilih yang lebih penting

2. Belajar melepaskan apa yang tidak penting

3. Mempelajari strategi menghindari konflik

4. Meneguhkan keterampilan dan kemampuan diri

5. Menemukan dan menikmati hal-hal yang membawa kedamaian dan kebahagiaan.

Hasil Akhir yang Ditawarkan :

1. Merasa nyaman karena telah terbebas dari konflik dan kesulitan hidup.

2. Menyingkirkan hal-hal yang tidak dibutuhkan

3. Menggunakan keterampilan dengan bijak

4. Menikmati kesenangan-kesenangan hidup

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: