MENERIMA KEHILANGAN


Seorang lelaki pengangguran yang memiliki empat orang anak menyeret kakinya dengan penuh keputusasaan melewati sebuah jalanan yang lengan. Dia keluar dari ruahnya sejak subuh tadi, sebagaimana yang biasa dia lakukan setiap hari selama beberapa bulan ini. Keputusasaannya terlihat dari gaya berjalannya yang malas. Dia bisa merasakan bahwa perjalanannya ke kota ini juga tidak akan menghasilkan pekerjaan yang begitu dia butuhkan. Ekonomi keluarganya kembang-kempis. Tagihan yang harus dia bayar menggunung. Anak-anak kadang-kadang harus tidur dengan perut lapar, dan istrinya terkena depresi.

Ketika dia menyeret kakinya menyusuri jalanan yang lengang, tiba-tiba kakinya tersangkut sesuatu. Karena merasa penasaran, dia membungkuk untuk mengambilnya. Ternyata, yang ia temukan adalah sebuah koin kuno yang sudah penyok-penyok dan tak dikenal. Masih belum cukup, begitu pikirnya, untuk meredakan situasi buruk kami.

Meskipun begitu, dia membawa koin tersebut ke bank. “Uang ini sudah tidak berlaku, Pak,” begitu kata seorang teller kepadanya. Lelaki itu mengangkat bahu. Namun, kemudian keberuntungan datang kepadanya. Teller tersebut menyarankannya membawa koin tersebut pada seorang kolektor yang tinggal di ujung jalan. Kolektor tersebut mengakui keantikan koin tersebut dan memberinya $30 atas penemuannya tersebut.

Begitu senangnya, lelaki tersebut mulai memikirkan apa yang akan dia lakukan dengan rejeki nomplok ini. Ketika melewati sebuah toko perkakas, dilihatnya beberapa lembar kayu berserat yang cantik sedang diobral. Dia bisa membuatkan beberapa rak untuk istrinya karena istrinya pernah bilang bahwa meraka tak punya tempat untuk menyimpan jambangan dan stoples di dapur mereka yang sederhana.

Sesudah membeli kayu seharga $30, dia memanggul kayu tersebut dan beranjak pulang. Di tengah perjalanan, dia melewati bengkel seorang pembuat mebel. Mata pemilik bengkel mebel yang sudah terlatih dengan cepat melihat kayu yang cantik tersebut, warnanya yang kaya, dan mutu kayu yang dipanggul lelaki tersebut. Kebetulan pada saat itu dia mendapat pesanan lemari kaca, dan dengan kayu ini dia bisa mematok harga yang lebih tinggi. Jadi, dia menawarkan uang sejumlah $100 kepada lelaki tersebut. Ketika lelaki miskin tersebut terlihat ragu-ragu, perajin mebel itu mencoba merayunya dengan menawarkan beberapa mebel yang sudah jadi yang bisa dipilih pria tersebut.

Di sana, ada sebuah lemari yang pasti akan membuat istrinya senang. Dia menukar kayu tersebut dan meminjam gerobak dorong kepada perajin mebel untuk membawa lemarinya pulang. Di tengah perjalanan, dia melewati sebuah perumahan baru. Seorang wanita, yang sedang mendekorasi rumah barunya, melongok ke luar jendela dan melihat lelaki tersebut mendorong lemari yang sangat dia inginkan untuk menyimpan pakaiannya. Dia menawar lemari itu dengan harga $200, dan ketika melihat lelaki itu ragu-ragu, wanita tersebut menaikkan tawarannya menjadi $250. Lelaki itu setuju dengan harga yang ditawarkan, kemudian dia mengembalikan gerobak dorong kepada perajin mebel, dan sekali lagi beranjak pulang.

Di pintu masuk desa, dia berenti sejenak. Karena sangat gembira dengan rezeki nomplok yang diperoleh, dia merogoh sakunya dan mengeluarkan uang yang dibawanya. Dia ingin menghitungnya sekali lagi dan tak sabar ingin segera menunjukkan kepada istrinya.

Tepat pada saat itu seorang perampok menyerbu keluar dari semak-semak, mengancam lelaki tersebut dibawah kilauan belati, dan merampar uang sebesar $250 tadi, lalu kabur. Istrinya melihat perampokkan tersebut dari jendela dapur mereka. Dia berlari keluar rumah. “Apa yang terjadi?” teriaknya. “Abang baik-baik saja? Apa yang dibawa lari perampok tadi?”

Dia mengangkat bahunya dan berkata, “Oh, hanya sebuah koin penyok-penyok yang kutemukan tadi pagi.”

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: