Pelajaran Yang Tidak Diduga


Saya teringat akan suatu hari yang tenang dan menyenangkan, hari ketika saya pulang ke kampung halaman. Arman berusia sekitar tiga tahun dan saat itu musim panas. Langit berwarna biru cerah, dihiasi gumpalan-gumpalan awan kecil disana sini. Udara disapu oleh gelombang aroma wangi bunga-bunga dari kebun. Saya masih ingat, hari itu adalah hari saya belajar dari adik laki-laki saya.

Hari itu, saya sudah merencanakan samuanya. Saya akan mengajaknya ketaman yang letaknya tidak jauh dari rumah. Di sana, rumputnya baru di potong, tempatnya bersih dan rapih. Sarana bermain yang ada di taman tersebut berwarna-warni, mengilap, dan cukup baru. Misi saya adalah sampai di taman tersebut secepat mungkin, menghabiskan waktu bersama, lalu pulang kerumah. Bagi saya, semuanya sudah jelas. Saya sama sekali tidak menyangka bahwa adik laki-laki saya memberi saya sebuah pelajaran berharga.

Nah, Arman ternyata punya misi lain. Dia pergi hanya untuk menikmati pengalaman apa pun yang terjadi pada saat itu. Dia tidak punya keinginan atau rencana pergi ketaman. Dia tidak memiliki harapan atau sasaran yang harus dicapai.

Belum seberapa jauh kami dari pintu depan ketika tiba-tiba dia berhenti. Dia memetik setangkai bunga liar dari samping jalan setapak. Di perhatikan warna bunga tersebut, Mengamati bagian tengahnya yang berwarna hitam pekat dan kelopaknya yang berwarna kuning menyala. Dengan lembut dia mencabut selembar kelopak dan dengan cermat memerhatikan serbuk sari  berwarna kuning keemasan yang berjatuhan di jemarinya. Dia baru mau beranjak sesudah tidak merasa tertarik lagi.

Saya ingin sekali segara ketaman, jadi saya menggandeng tangannya yang munggil untuk membimbingnya. Jika kami tidak bergegas, siang hari akan berlalu hingga dia mungkin takkan sampat bermain  ayunan atau prosotan. Namun, beberapa meter kemudian, dia berhenti lagi. Kali ini, dia menemukan bunga dandelion. Ditutupnya bunga itu dan dipandangi benih-benihnya yang halus bak bulu menari diterap angin. Diikutinya benih-benihnya yang terbawa angin dengan pelan, yang membentuk lengkungan di udara dan kemudian jatuh ketanah. Dia meniup lagi dan memperhatikannya dengan seksama. Tak ada ketergesaannya dalam gerakannya. Tiap tiupan mengalami pengalaman baru, dan dia menghabiskan waktu yang dia miliki untuk menemukan pengalaman baru tersebut. Dia meniup lagi sampai semua benih terbang ke udara mencari tanah segar untuk pertumbuhanya.

“Ayo, ke taman, “ajak saya, tetapi kami malah masuk kesebuah tanah kosong diantara dua rumah. Dua atau tiga tahun lalu, seseorang telah membuang puing-puing di tanah itu. Rumput-rumput liar tumbuh di tengah-tengah batu bata merah yang sudah tua dan pecahan-pecahan beton. Bunga-bunga bermekaran di antara puing-puing tersebut.

Arman langsung menuju kearah puing-puing tersebut. Dia ingin menaikinya. Sekarang, kami takkan mungkin sampai ke taman. Saya mulai bertanya-tanya tentang tujuan kami keluar-bersama siang itu, atau setidaknya tujuan kami dari sudut pandang saya. Apakah tujuan kami keluar demi kebahagiannya atau kegiatan yang akan dia nikmati dari sudut pandang saya?

Dia mulai berusaha menikmati puing-puing itu. Saya memerhatikannya dengan kegelisahan seorang kakak. Dia menaiki gedukan pertama dengan sinar mata penuh keceriaan. Dia berhenti pada sebatang tanaman liar yang tingginya sama dengan tingi tubuhnya. Dia memetik biji-bijinya, mengupas kulit luarnya dan menggulirkan butir tersebut di antara jemarinya, merasakan takstur, bentuk, dan kekerasannya. Perhatianya begitu terfokus sehingga, untuk sementara waktu, seakan dunia dan seisinya sudah menguap.

Lalu,dia kembali mendaki gundukan. Dia menginjak sebuah ranting yang lalu patah karena tak kuat menahan berat badannya dan memasukan salah satu kakinya ke dalam celah di antara puing-puing. Saya harus menahan diri untuk tidak turun tangan membebaskannya. Saya harus meyakinkan diri bahwa hal-hal yang tidak terduga bisa mengandung pelajaran penting. Ini adalah bagian dari prosesbelajar.

Di atas puing-puing, ida menemukan tumbuhan pemakan serangga dan dengan lembut dia menyentuhnya dengan jemarinya yang mungil dan gemuk, Tanaman itu bereaksi. Sebuah benang sari yang tersembunyi menjepit jemarinya karena mengira jemarinya seekor lebah yang sedang mampir. Dia terkikik karena terkejut dan menoleh untuk memeriksa apakah saya juga melihat keajaiban alam ini. Dia mencoba bunga demi bunga, sambil tertawa riang.

Waktu kami hampir habis dan Arman berhenti mencari. Akhirnya, tanpa hasrat atau misi, dia berdiri di puncak segundukan puing yang tingginya dua kali tinggi tubuhnya. Dari matanya yang menyiratkan kemenangan dan wajahnya yang memencarkan kebahagiaan yang luar biasa, dia mungkin merasa menjadi orang pertama yang menemukan puncak Gunung Evrest.

Ketika berangkat, sayalah yang memiliki misi. Saya keluar dengan ujuan tertentu Bagi saya, perjalanan kami berfungsi sebagai sarana mencapai tujuan kami bersama: Lapangan bermain di taman. Namun bagi Arman, perjalanan tersebut adalah perjalanan untuk menemukan sesuatu. Baginya, tujuan perjalanan kami tidaklah sepenting proses menikmati pengalaman di sepanjang perjalanan.

Sebagai orang tua, saya pikir, saya perlu mengajarkan banyak hal kepada anak-anak saya. Bahkan, saya pikir, sudah menjadi tugas dan kewajiban sayalah untuk menjadi guru mereka. Tangung jawab tersebut sunguh berat. Sebagai kakak, saya telah menemukan, masih banyak yang harus saya plajari dari anak-anak. Dalam banyak hal, Arman adalah tutor saya.

Kami tak pernah sampai di taman.

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: